Minggu, 29 Juli 2012

Curahan Hatiku


Aku termenung meratapi nasib. Entah sampai kapan aku akan berhenti untuk tidak tersenyum. Aku sadar kalau sahabat itu lebih dari segalanya, tapi aku tak tahu apa yang telah aku perbuat terhadap sahabatku sendiri. Menyakitinya, menyusahkannya, membuat dia mengeluarkan air mata sucinya, menghilangkan senyum manis dari bibir mungilnya, dan entah sampai kapan aku akan membuat hidupnya sial. Aku sadar kalau aku melakukan semua kesalah itu.
Termenung, melamun, dan tak sadar kalau mataku tidak berkedip dari tadi, tapi mengeluarkan air mata. Hanya diriku sendiri, tak ada satupun yang menemaniku, aku sadar aku sudah membuat impian ku dengan sahabatku hancur. Andai saja waktu bisa di putar kembali, mungkin aku akan melakukan yang terbaik lebih dari yang terbaik untuk sahabat-sahabatku. Membuat sahabatku tersenyum, dan tidak menyusahkannya. Ini semua salahku, karena aku mereka jadi begini, aku rindu saat kita dulu tertawa bersama, sedih bersama, menangis bersama, ngobrol bersama, dan bercanda bersama.
Entah kepada siapa lagi aku akan menceritakan keluh kesahku, entah kepelukan siapa lagi aku akan menangis, entah kepada siapa lagi aku berbagi keceriaan, kini senyum itu hilang, entah kemana. Aku tak tahu harus bagaimana lagi, harus berbuat apa lagi, harus mengatakan apa lagi. Rasanya, ingin sekali aku berteriak sekeras-kerasnya di atas bukit yang paling tinggi, lebih tinggi dari bukit-bukit yang lain, dan aku akan meneriakkan kata-kata “HUKUM AKU TUHAN, HUKUM AKU TUHAN, SAHABAT MACAM APA AKU INI, YANG TIDAK BISA MENJAGA SAMA SEKALI SAHABAT-SAHABATNYA, MEMBUAT SAHABATNYA SEDIH, MENANGIS, GUNDAH, DAN MENGHILANGKAN SENYUM MANISNYA, HUKUM AKU TUHANNN, AKU RELA DI HUKUM, AKU IKHLAS DI HUKUM, ASALKAN KEMBALIKAN SENYUM SAHABAT-SAHABATKU, JANGAN BIARKAN AKU TERSENYUM LEBIH DULU, SEBELUM MEREKA TERSENYUM, HUKUM AKU TUHAN, KU MOHON HUKUM AKU”
Aku cuma mau kebahagiaanku sempurna dengan adanya sahabat-sahabatku. Tanpa mereka aku tidak bisa bangkit untuk selalu maju, dan tidak melihat kebelakang. Mereka selalu berkata “udah Nis, kalau itu memang bukan yang terbaik untuk kamu, jangan kamu lakukan, tapi kalau itu yang terbaik, lakukan, kita hanya bisa mendukung kamu, lakukan sesuai kata hatimu, dan pastinya berdo’a,” “udah Nis, jangan sedih lagi, hapus air matamu, kamu tidak pantas menangisi sesuatu yang memang bukan untuk di tangisi, tersenyumlah Nis, kita akan selalu ada di sampingmu, untuk selalu mendukung kamu,” “tersenyum Nis, semangat, jangan lesu, kamu jelek lho kalau sedih.”
Entah kapan aku bisa mendengar kata-kata itu lagi, mungkin sudah tidak bisa. Karena mereka mungkin sudah tidak mau bertemu aku, karena aku jahat, aku kejam, aku tak bisa menjaga keutuhan sahabatku. Dan saat ini aku hanya bisa menangis, hanya bisa menyesali diri sendiri, dan 1 kalimat yang saat ini melekat di hati ku ‘AKU BENCI DIRIKI SENDIRI !!!!’
Nurul Hidayati, Nararya Imelda Herawati, Aditya Ratih Triandini.
Kalian tidak akan pernah kulupakan, sampai kapanpun. Karena kebersamaan kita, kenangan indah kita, selalu melekat di hatiku, dan tak mungkin kubuang begitu saja. Kelak saat aku sudah punya keluarga, aku akan menceritakan kepada anakku, kalau aku sungguh bahagia mempunyai sahabat seperti kalian, dan aku akan menyuruh anakku kelak, untuk mencari sahabat seperti kalian, walau kalian sudah lupa terhadapku, tapi 1 yang tak boleh kalian lupa, ‘kebersamaan’ kita. Maaf kalau aku selalu membuat salah, dan membuat kalian marah. You are the best.
“FUN BERRY”
The End


By : Farhah Annisa

0 komentar: