Aku termenung meratapi nasib. Entah sampai kapan
aku akan berhenti untuk tidak tersenyum. Aku sadar kalau sahabat itu lebih dari
segalanya, tapi aku tak tahu apa yang telah aku perbuat terhadap sahabatku
sendiri. Menyakitinya, menyusahkannya, membuat dia mengeluarkan air mata
sucinya, menghilangkan senyum manis dari bibir mungilnya, dan entah sampai
kapan aku akan membuat hidupnya sial. Aku sadar kalau aku melakukan semua
kesalah itu.
Termenung, melamun, dan tak sadar kalau mataku
tidak berkedip dari tadi, tapi mengeluarkan air mata. Hanya diriku sendiri, tak
ada satupun yang menemaniku, aku sadar aku sudah membuat impian ku dengan
sahabatku hancur. Andai saja waktu bisa di putar kembali, mungkin aku akan
melakukan yang terbaik lebih dari yang terbaik untuk sahabat-sahabatku. Membuat
sahabatku tersenyum, dan tidak menyusahkannya. Ini semua salahku, karena aku
mereka jadi begini, aku rindu saat kita dulu tertawa bersama, sedih bersama,
menangis bersama, ngobrol bersama, dan bercanda bersama.
Entah kepada siapa lagi aku akan menceritakan keluh
kesahku, entah kepelukan siapa lagi aku akan menangis, entah kepada siapa lagi
aku berbagi keceriaan, kini senyum itu hilang, entah kemana. Aku tak tahu harus
bagaimana lagi, harus berbuat apa lagi, harus mengatakan apa lagi. Rasanya,
ingin sekali aku berteriak sekeras-kerasnya di atas bukit yang paling tinggi,
lebih tinggi dari bukit-bukit yang lain, dan aku akan meneriakkan kata-kata
“HUKUM AKU TUHAN, HUKUM AKU TUHAN, SAHABAT MACAM APA AKU INI, YANG TIDAK BISA
MENJAGA SAMA SEKALI SAHABAT-SAHABATNYA, MEMBUAT SAHABATNYA SEDIH, MENANGIS,
GUNDAH, DAN MENGHILANGKAN SENYUM MANISNYA, HUKUM AKU TUHANNN, AKU RELA DI
HUKUM, AKU IKHLAS DI HUKUM, ASALKAN KEMBALIKAN SENYUM SAHABAT-SAHABATKU, JANGAN
BIARKAN AKU TERSENYUM LEBIH DULU, SEBELUM MEREKA TERSENYUM, HUKUM AKU TUHAN, KU
MOHON HUKUM AKU”
Aku cuma mau kebahagiaanku sempurna dengan adanya
sahabat-sahabatku. Tanpa mereka aku tidak bisa bangkit untuk selalu maju, dan
tidak melihat kebelakang. Mereka selalu berkata “udah Nis, kalau itu memang
bukan yang terbaik untuk kamu, jangan kamu lakukan, tapi kalau itu yang
terbaik, lakukan, kita hanya bisa mendukung kamu, lakukan sesuai kata hatimu,
dan pastinya berdo’a,” “udah Nis, jangan sedih lagi, hapus air matamu, kamu
tidak pantas menangisi sesuatu yang memang bukan untuk di tangisi, tersenyumlah
Nis, kita akan selalu ada di sampingmu, untuk selalu mendukung kamu,”
“tersenyum Nis, semangat, jangan lesu, kamu jelek lho kalau sedih.”
Entah kapan aku bisa mendengar kata-kata itu lagi,
mungkin sudah tidak bisa. Karena mereka mungkin sudah tidak mau bertemu aku,
karena aku jahat, aku kejam, aku tak bisa menjaga keutuhan sahabatku. Dan saat
ini aku hanya bisa menangis, hanya bisa menyesali diri sendiri, dan 1 kalimat yang
saat ini melekat di hati ku ‘AKU BENCI DIRIKI SENDIRI !!!!’
Nurul Hidayati, Nararya Imelda Herawati, Aditya
Ratih Triandini.
Kalian tidak akan pernah kulupakan, sampai
kapanpun. Karena kebersamaan kita, kenangan indah kita, selalu melekat di
hatiku, dan tak mungkin kubuang begitu saja. Kelak saat aku sudah punya
keluarga, aku akan menceritakan kepada anakku, kalau aku sungguh bahagia
mempunyai sahabat seperti kalian, dan aku akan menyuruh anakku kelak, untuk
mencari sahabat seperti kalian, walau kalian sudah lupa terhadapku, tapi 1 yang
tak boleh kalian lupa, ‘kebersamaan’ kita. Maaf kalau aku selalu membuat salah,
dan membuat kalian marah. You are the best.
“FUN BERRY”
The End
By : Farhah Annisa

